Haramkah Mengenakan Busana Orang yang Sudah Meninggal

Published by: 0

Hasil gambar untuk kaos orang meninggal

Pakaian adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Busana adalah keperluan utama di samping papan lan pangan. Baju yang baik dan rapi akan mencerminkan kepribadian kamu yang berakhlak pula. Namun, busana yang kurang rapi akan memberi kesan yang buruk bagi yang melihatnya.

Maka tidak heran apabila kenyataanya pakaian memang hal yang utama dan tidak bisa dipisahkan dari gaya hidup .Sebagaimani perumpamaan Jawa yang menuturkan “Ajining Ati Soko Lathi, Ajining Rogo soko Busono”.

Apabila diartikan ke bahasa Indonesia, peribaha di atas menerangkan “Cerminan hati bisa dilihat dari cara bertutur katanya. Cerminan kelakuannya dilihat dari cara ia berbusana”.

Lantas bagaimana apabila pakaian yang kita kenakan adalah baju bekas orang yang sudah meninggal?

Bagaimana hukumnya kita memakai busana individu yang sudah dikuburkan? Baca ulasannya di bawah ini.

KaidahMenggunakanBusana Seseorang yangSudah Meninggal

Pada halikatnya mengenakan baju seseorang yang sudah dikuburkan hukumnya diperbolehkan. Sangat diperbolehkan untuk mengenakan pakaian yang telah wafat. Terlebih bila busana orang yang sudah meninggal itu dibagikan kepada kaum miskin.

Apabila beberapa busana itu disedekahkan pada yang belum mampu justru akan meningkatkan balasan di akhirat untuk keluarga yang sudah mau mensedekahkannya. Meskipun tidak bersedia didermakan ke kaum fakir, saudara yang ditinggal pergi pun bisa mengenakan busana-busana bekas tersebut.

Beberapa pakaian itu lebih baik dikenakan daripada mubadzir ditempatkan di dalam lemari dan akan melapuk jika tidak pernah dikenakan. Memubadzirkan barang justru haram hukumnya.

Allah telah berfirman dalam Q.S: Al-Isro ayat 27 yang berbunyi “Innalmubadzirrina kaanuu ihwana as syayathiin, wa kaana asyaithoni lirobbihi kufuron”

Makna dari ayat di atas adalah :

Sesunggunhnya mubadzir adalah saudara-saudaranya setan. Dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Nah, masihkah kita sebagai hamba-Nya yang ingkar?

Mewakafkan beberapa pakaian dari seseorang yang telah wafat halal hukumnya asalkan dikenakan dengan wajar. Kemudian menjadi haram bila pakaian-pakaian itu berbahan pokok dari kain sutra.

Komposisi yang mengandung kain sutra dilarang hukumnya dkenakan bagi pria. Itu sudah diatur dalam al-Qur’an dan hadits. Menjadi haram pula jika tidak ada rasa memberi dan keikhlasan dari keluarga yang ditinggalkannya.

Terkadang terdapat beberapa keluarga yang tidak mau mengikhlaskan beberapa busan orang yang wafat karena itu masih menyimpan kenangan. Sebagian barang yang menyisakan kenangan tersendiri bagi yang ditinggalkan.

Merasa sayang bila pakaian itu diberikan ke orang lain yang kediamannya sangat jauh dari di mana ia berada. Bila pihak keluarga sudah tidak untuk berkenan dan merelakan maka kita tidak boleh mengharapkan beberapa pakaian dari orang yang sudah meninggal. Keikhlasan yaitu suatu hal yang terpenting dalam setiap sendi-sendi keseharian.

Sesuap nasi yang dibagikan dengan tidak hati yang lurus saja dapat menjadikan kita susah meniti jalan menuju sirratal mustaqimnya. Terlebih jika itu adalah satu lembar? Atau satu buah sandangan?

Pada intinya, garis merah yang bisa diringkas dari tulisan ini adalah hukum mengenakan baju atau pakaian orang yang wafat meninggal adalah mubah atau boleh. Tidak ada ayat Al-Qur’an maupun hadits yang menceritakan tidak halal hukumnya mengenakan pakaian orang yang sudah meninggal.

Namun yang menjadi catatan pokok dalam hal ini yakni adanya rasa ikhlas dan belas kasih dari anggota ketika ingin memberikan pakaian itu pada yang kurang mampu. Wallahu a’lam bisshowab. Mari kenakan kaos jasa sablon jakarta kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *