Perbandingan Metode tradisional dan metode geomembrane pada pembuatan tambak garam

Published by: 0

Tambak Garam

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki potensi kelautan yang sangat besar, mulai dari perikanan tangkap hingga pengolahan air laut, salah satu contohnya adalah pengolahan air laut menjadi garam. Banyak pulau di Indonesia yang menjadi daerah penghasil garam diantaranya Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Sulawesi Utara, Sulawei Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sumatra, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur. Namun sayangnya petani garam saat ini sedang mengalami kegalauan karena Merosotnya harga garam saat panen ditingkat petani, Penurunan harga bisa mencapai 50 persen, bahkan ada yang lebih rendah lagi.

Agung Kuswandono, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kementerian Koordinator Kemaritiman (Kemenko Maritim), dalam konferensi pers di Kantornya, Jakarta, pada Jumat (12/07/2019), seperti dikutip dari tirto.id, mengatakan, rendahnya harga garam ditingkat petani itu disebabkan oleh kualitas kadar NaCI (natrium klorida) tidak sesuai dengan standar mutu garam, kurang dari 94 persen.

Dia menambahkan, kualitas garam untuk dapat diserap oleh perusahaan BUMN yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran garam, PT Garam (Persero). Memiliki syarat untuk kualitas garam, salah satunya yaitu minimum dengan kadar 94,7 persen NaCI atau level K1. Untuk industri garam multinasional, bahkan disebutkan mempunyai syarat kadar NaCI mencapai 99,9 persen.

Untuk meningkatkan mutu garam salah satunya adalah dengan menggunakan geomembrane Geostar. Geomembran yang digunakan adalah tipe “High Density Polyethylene” atau HDPE yang merupakan  lapisan kedap air , fungsinya dapat menggantikan tambak beton, hanya cukup dihamparkan pada lahan garam, kelebihan geomembran sendiri adalah tahan air, korosi, minyak, asam, dan panas tinggi.

Berikut ini perbandingan dari hasil produksi antara tambak garam dengan cara konvensional dan tambak garam dengan menggunakan Geomembrane.

  • Tambak Garam Konvensional

pada teknologi konvensional ini, air laut dimasukkan dalam petak penampungan air laut (tandon), kemudian dialirkan dari petak peminihan ke petak peminihan lainnya untuk diuapkan. Dari petak peminihan terakhir (sebagai penampung air tua dengan konsentrasi garam yang tinggi) dialirkan ke meja garam untuk dikristalkan. Setelah menjadi kristal garam, garam siap dipanen. Metode ini yang masih sering digunakan oleh sebagian besar para petani garam. Kekurangan dari Teknologi tradisional ini adalah pada waktu yang lama (lebih dari 10 hari) dan garam yang dihasilkan kualitasnya rendah dikarenakan kandungan NaCl rendah dan lumpur dasar masih melekat pada garam. 

  • Tambak Garam Geomembrane

Penggunaan geomembrane ini telah dilakukan pada beberapa daerah, seperti di aceh contohnya, petani garam yang menggunakan geomembrane merasa sangat terbantu karena hasil yang didapatkan berkualitas lebih bagus dan juga masa panen yang lebih singkat. Selain itu geomembrane juga lebih praktis karena dapat dilipat dan disimpan ketika tidak digunakan, sehingga ketika musim penghujan dapat disimpan, mengingat produksi garam hanya dapat dilakukan di musim kemarau.